Pages

Jumat, 12 Juli 2013

Proyeksi pemeriksaan Genu

Banyak macam dari proyeksi pemeriksaan Genu diantaranya :

1. AP
2. Lateral
3.Dan Skyline.

Tetapi saya hanya akan menjelaskan proyeksi pemeriksaan Genu AP dan Lateral


Proyeksi AP




  • PP = Posisi pasien supine di atas meja pemeriksaan dengan kepala diganjal dengan bantal dan tangan berada di samping tubuh.
  • PO = Lutut yang diperiksa diletakkan di atas kaset, tepat di tengah-tengah kaset dan marker ditempelkan di ujung kaset.
  • CP = Tegak lurus Vertikal
  • CR = 2cm di bawah Oss Patella (Pada celah sendi antara Femur dan Tibia.
  • Kaset = 18x24cm
  • FFD = 90-100 cm
  • Luas lapangan kolimasi : Batas atas 1/3 Distal Femur dan batas bawah 1/3 Proksimal Cruris.
Kriteria Gambaran :




Proyeksi Lateral




  • PP = Pasien tidur di atas meja pemeriksaan dalam posisi supine. Kepala miring ke kanan dan ke kiridiganjal dengan bantal dan kedua tangan berimpit di depan dada.
  • PO = Lutut yang diperiksa diletakkan di atas kaset dalam posisi mediolateral. Lutut yang lain disilangkan ke depan atau ke belakang lutut yang akan diperiksa.
  • CP = Pada articular Genu.
  • CR = Tegak lurus Vertikal.
  • Kaset = 18x24cm 
  • FFD = 90-100cm
  • Luas lapangan kolimasi batas atas 1/3 distal femur dan 1/3 Proksimal Cruris
Kriteria gambaran :


{Pos Writed by Aditya






Kamis, 11 Juli 2013

Proyeksi pemeriksaan Cranium

Proyeksi pemeriksaan cranium basicnya ada 2 yaitu :

1. AP
2. Lateral


Proyeksi AP





  • PP = Posisi pasien supine dengan tangan berada di samping badan.
  • PO = Tempatkan MSP tubuh berada di tengah meja pemeriksaan dan Fleksikan leher agar OML (Orbitomeatal line) tegak lurus pada kaset.
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada Glabella
  • FFD = 100-120 cm
  • Memakai Lysolm/Grid
  • Menggunakan kaset 24x30cm
  • Luas lapangan kolimasi : Dari Verteks sampai Kartilago tyroid (C4).
Kriteria Gambaran :


1. Sinus Frontalis
2. Sinus Ethmoidalis
3. Sinus Paranasal
4. SInus Maxillaris.
5. Oss Frontal
6. Oss Nasal
7. Ethmoid
8.Sphenoid
9. Zygomaticum
10. Maxilla
11. Mandibula.
12. Vertebra Cervical.

Tujuan AP = Untuk melihat ke 4 sinus di wajah.


Lateral :

  • PP = Pasien obliq 45 derajat dengan kepala true lateral dengan tangan satu di depan kepala dan knee   difleksikan agar posisi pasien nyaman.
  • PO= MSP Horizontal dan Fleksikan Leher agar Interpupilarline tegak lurus dengan kaset.
  • CR = tegak lurus Vertikal
  • CP = 4-5cm di atas MAE atau 1-3jari di atas telinga.
  • FFD = 100cm
  • Menggunakan kaset 24x30cm
  • Menggunakan Lysolm/Grid
  • Luas lapangan Kolimasi : Batas atas dari Vertex dan batas bawah pada Cervical 4
Kriteria Gambaran :


1. MAE
2. TMJ
3. Sinus Frontalis
4.Sinus Maxillaris
5. Mandibula
6. Ramus Mandibula
7. Sphenoid
8. Mastoid air cells
9. Sella tursica.
10. Oss Temporal
11. Oss Frontal
12. Oss Parietal.
13. Oss Occipital
14. Oss Nasal
14.Oss Maxilla
15. Suture Coronalis
16.Suture Lambdoidea
17. Vertebra Cervical.

Tujuan Posisi Lateral adalah untuk melihat bagian dari Kepala dengan posisi dari samping untuk melihat TMJ dan MAE.


Posting : 12-07-13 Writed by Aditya



Senin, 06 Mei 2013

Proyeksi pemeriksaan Oss Femur


Proyeksi pemeriksaan Oss Femur



AP (Anterior-Posterior)


  • PP = Posisi pasien supine
  • PO = Aggota gerak bawah ekstensi dan diputar kedalam (Endorotasi) sehingga patella paralel terhadap meja pemeriksaan, untuk membantu posisi tersebut sandbag diletakkan pada tiap-tiap tepi dari tungkai bawah dan antara knee joint sampai masuk dalam kaset.
  • Ukuran kaset = 30x40cm Vertikal
  • CR = Vertikal tegak lurus terhadap kaset.
  • CP = Pada pertengahan oss Femur
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Batas bawah Knee joint harus terlihat dan batas atas Hip joint harus terlihat disesuaikan dengan klinis pasien.

Kriteria gambaran : Oss Femur dan knee joint


Kriteria Evaluasi :

  • Mayoritas dari femur dan sendi yang terdekat dengan keadaan patologis atau luka harus terlihat.
  • Sendi lutut tidak dalam keadaan rotasi.

LATERAL

  • PP = Pasien tiduran miring ke arah yang sakit
  • PO = Lutut sisi yang sakit fleksi dan kaki yang lain lurus dibelakang, bagian bawah panggul diganjal sandbag, dan Usahakan kedua sendi masuk dalam kaset.
  • Ukuran kaset = 30x40 cm Vertikal.
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada pertengahan Oss Femur
  • Marker = R/L Orientasi AP



Kriteria gambaran : Oss Femur, dan Knee Joint




Kriteria Evaluasi :
  • Sebagian besar Femur dan kelainan dekat persendian masuk dalam radiograf.
  • Permukaan Anterior dari condilus femur terlihat superposisi.
  • Patella terlihat jelas dan celah antara femur dan patella harus terbuka.






Jumat, 26 April 2013

Proyeksi pemeriksaan Hip Joint

Proyeksi pemeriksaan HIP Joint.


1. AP (Antero Posterior)


  • PP (Posisi Pasien) = Pasien supine dengan kaki sedikit direnggangkan dan bila memungkinkan tungkai bawah diputar ke dalam 30 derajat dan diimobilisasi pada posisi ini dengan mengganjal bagian lateral ankle dengan bantal pasir.
  • PO (Posisi Objek) = Posisi Pelvis harus simetris dengan kedua sisi berjarak sama terhadap meja pemeriksaan.
  • Ukuran kaset = 24x30cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada garis tengah tubuh kurang lebih 2,5 cm diatas sympisis pubis/Columb Femuris
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan = Dari Symphisis pubis sampai 1/3 Distal Femur
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Tampak tulang Pubis, Crista iliaca, ilium, Acetabulum, Femoral Head, Greater Trochanter, Femoral Neck, Lesser Trochanter, dan Body femur.


Kriteria Evaluasi = 
  • Tampak Tulang Pubis dan Ischi superposisi diatas sacrum dan coxigis
  • Kedua Foramen obturatorium harus simetris.
  • Ramus pubis dan ischi harus dekat dengan tengah-tengah radiograf.
  • Sendi paha harus masuk.
2. LATERAL 
  • PP (Posisi Pasien) = Pasien tiduran dengan posisi recumbent seeing lateral dari femur dan panggul menempel meja.
  • PO (Posisi Objek) = Sendi panggul ditempelkan ditengah meja, Lutut sedikit ditekuk (Fleksi), Tungkai sisi yang lain diluruskan, diletakkan dibelakang tungkai sisi yang diperiksa dan diganjal dengan bantal.
  • Ukuran kaset = 24x30cm Vertikal
  • CR = Vertikal Tegak lurus terhadap kaset
  • CP = Pada sendi tegak lurus pada tengah-tengah kaset.
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan = dari Symphisis pubis sampai 1/3 distal femur.
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran = Acetabulum, Femoral Head, Femoral Neck, Lesser Trochanter, Ischial tuberosity.


Kriteria Evaluasi = 
  • Hip joint, Acetabulum dan head femoral harus tampak.
  • Femoral Neck superposisi dengan trochanter mayor lebih besar pada proyeksi ini.








Senin, 08 April 2013

Proyeksi pemeriksaan Patella

Proyeksi pemeriksaan Patella ada 3 yaitu :


  1. PA
  2. LATERAL
  3. TANGENTIAL (AXIAL SUNRISE/SKYLINE)

Untuk indikasinya biasa terjadi fraktur,atau dislokasi pada patella maupun pada patello femoral joint.


Proyeksi pemeriksaan PA

  • Posisi Pasien = Pasien prone di atas meja pemeriksaan, kedua tungkai lurus.
  • Posisi objek = Genu diletakkan di atas kaset, tungkai bawah diatur sehingga patella sejajar kaset dengan cara memiringkan tungkai 10 derajat ke arah tepi meja pemeriksaan yang terdekat untuk fiksasi dibawah femur dan punggung kaki.
  • Ukuran kaset = 18x24 horizontal
  • CR = Vertikal tegak lurus terhadap kaset.
  • CP = Pada lekukan lutut atau menuju pertengahan patella.
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = dari 1/3 distal femur sampai 1/3 proksimal ossa cruris.
  • Marker = R/L Orientasi PA

Kriteria gambaran : Patella, Oss distal femur dan Oss Proksimal Cruris, Femoral condyles articular facets.


Kriteria evaluasi :

  • Oss patella superposisi dengan femur
Proyeksi pemeriksaan Lateral

  • PP (Posisi pasien) = Pasien supine dengan tubuh miring menuju daerah yang akan diperiksa dan tangan diposisikan senyaman mungkin untuk pasien.
  • PO (Posisi objek) = Fleksikan knee joint 5-10 derajat dengan condylus lateral menempel pada kaset. 
  • Ukuran kaset = 18x24 cm Horizontal
  • CR = Tegak lurus vertikal
  • CP = Pada mid patellofemoral joint.
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = batas atas 1/3 distal femur dan batas bawah 1/3 proksimal cruris.
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran = Patella, Tibiofemoral joint, patello femoral joint.


Kriteria Evaluasi = 
  • Patella terlempar sehingga tidak superposisi dengan tulang-tulang yang lain.
  • Adanya Space pada patellofemoral joint.

Proyeksi pemeriksaan Tangential (Axial or sunrise/Skyline) Prone

  • PP (Posisi pasien) = Posisikan pasien prone(Telungkup) dengan tangan diposisikan senyaman mungkin.
  • PO (Posisi objek) = Knee joint fleksi 45 derajat dan patella menempel pada kaset bagian anterior.
  • Ukuran kaset = 18x24cm Horizontal
  • CR = Menyudut 15-20 derajat terhadap cruris.
  • CP = Mid patellofemoral joint.
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Batas atas 1/3 distal femur dan batas bawah 1/3 proksimal cruris.
  • Marker = R/L Orientasi PA
 

Kriteria gambaran = Patella dan Patellofemoral joint.


Kriteria Evaluasi = 
  • Terbukanya patellofemoral joint
  • dan patella tidak superimposisi dengan tulang lain.
  • dan intercondylar suclus (Trochlear groove) terlihat.








Selasa, 02 April 2013

Proyeksi pemeriksaan Abdomen 3 posisi

Proyeksi Abdomen Akut disebut juga dengan Proyeksi pemeriksaan Abdomen 3 posisi yaitu :

  1. AP
  2. Setengah duduk
  3. LLD

Proyeksi pemeriksaan AP

  • Persiapan pasien = Pasien dianjurkan untuk membuka baju hanya di sekitar perut saja
  • PP (Posisi pasien) = Pasien dalam posisi Supine atau tidur terlentang
  • PO (Posisi Objek) = Pusatkan MSP (Mid Sagital Plane) pada meja pemeriksaan dan pelvis usahakan tidak terjadi rotasi (Terlihat dari kedua SIAS berjarak sama dikedua sisinya)
  • Ukuran kaset = 30x40 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada umbilikus (Pusar) sekitar 3jari di atas Crista iliaca
  • Luas lapangan kolimasi = Batas atas T11 dan T12 harus tampak dan batas bawah sympisis pubis harus tampak
  • FFD = 100cm
  • Marker = R/L Orientasi AP
  • Memakai Lysolm/Grid
  • Intruksi ekposi = Tarik napas,,,,,keluarkan nafas,,,,Tahan napas.

Kriteria gambaran : T11,T12 tampak, Columna Vertebrae, Sympisis pubis, Crista iliaca, Ischium,Ileum, Vertebrae Lumbal, dan Fisika urinaria.


Kriteria Evaluasi : 
  • Tampak kontur liver (Hati), ginjal, dan keadaan dalam abdomen, tampak sedikit costae dan processus spinosus, columna vertebrae pada satu garis lurus.
  • Kedua SIAS terlihat simetris, os iliaca simetris.
Proyeksi pemeriksaan Setengah duduk

  • PP (Posisi pasien) = Pasien duduk di meja pemeriksaan dengan MSP (Mid Sagital Plane) tubuh sejajar dengan kaset, kedua tangan lurus disamping tubuh.
  • PO (Posisi Objek) = Kaset berada di belakang tubuh pasien, aturlah batas atas procxypoid dan batas bawah sympisis pubis, pelvis dan shoulder tidak mengalami rotasi.
  • Ukuran kaset = 30x40 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Horizontal
  • CP = pada umbilikus (Pusar) atau 3jari di atas crista iliaca
  • FFD = 100 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Batas atas T11,T12 dan Batas bawah Sympisis pubis.
  • Marker = R/L Orientasi AP
  • Memakai Lysolm/grid
  • Intruksi ekposi = Tarik nafas,,,,Keluarkan nafas,,,,Tahan nafas.

Kriteria gambaran : Tampak columa vertebrae, T11 dan T12, Sympisis pubis, Crista iliaca, Vertebrae Lumbal dan Fisika Urinaria

Kriteria Evaluasi :
  • Proyeksi ini bertujuan untuk memperlihatkan daerah sekitar diafragma


Proyeksi pemeriksaan LLD 

  • Persiapan pasien = Pasien tetap posisi miring (LLD) selama 10 atau 20 menit sebelum dilakukan eksposi  untuk memberikan kesempatan udara bebas agar naik hingga daerah permukaan atas rongga peritoneum.
  • PP (Posisi Pasien) = Pasien berbaring miring dengan sisi kiri tubuh menempel pada meja pemeriksaan. kedua lengan ditekuk dengan lutut diletakkan agak ke depan bidang anterior abdomen.
  • PO (Posisi objek) = Kaset dan grid dengan ukuran sesuai kebutuhan dipasang dibelakang punggung secara vertikal dan diganjal agar posisinya terfiksasi. Pertengahan kaset berada pada garis yang menghubungkan kedua Crista iliaca. Bidang median sagital (MSP) berada sejajar dengan meja pemeriksaan dan tegak lurus kaset. Kaset harus mencakup diafragma
  • Ukuran kaset = 30x40 cm Horizontal
  • CR = Tegak lurus Horizontal
  • CP = Pada Umbilikus (Pusar) atau 3jari di atas Krista iliaca
  • FFD = 100cm
  • Marker = L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Vertebrae Lumbal, Diafragma, Krista iliaca, T11 dan T12


Kriteria Evaluasi = 
  • Diafragma dan Abdomen bawah terlihat
  • Batas air dan udara (air-fluid level) di abdomen dengan detail soft tissue tampak di anterior abdomen


Tujuan dari masing-masing posisi :

Proyeksi AP : Memperlihatkan ada/tidaknya penebalan/distensi pada kolon yang disebabkan karena massa atau gas pada colon itu.
Proyeksi AP Setengah duduk :Untuk menampakkan udara bebas di bawah diafragma.
Proyeksi LLD (Left lateral Decubitus) : Untuk memperlihatkan air fluid level atau udara bebas yang mungkin terjadi akibat perforasi colon.

Kenapa Harus LLD tidak RLD ?

Supaya terpisah dengan udara di lambung, pada pasien yang mengalami kebocoran dinding usus, udara akan berada pada permukaan teratas. Jika dibuat foto RLD, udara bebas itu akan tampak menyatu/bercampur dengan udara di usus sehingga patologis sulit dinilai.

Tujuan pada saat eksposi pasien disuruh menahan nafas setelah ekspirasi penuh ?

Pada saat menahan nafas pergerakan usus berhenti, diafragma akan naik dan gambaran abdomen akan jelas.









Sabtu, 30 Maret 2013

Proyeksi pemeriksaan Ossa Cruris

Proyeksi pemeriksaan Ossa Cruris ada 2 yaitu :

  1. AP
  2. Lateral
Untuk klinisnya biasanya terjadi fractur, dan benda asing di Ossa Tibia dan Fibula


Proyeksi pemeriksaan AP 

  • PP (Posisi Pasien)= Pasien supine atau tiduran di atas meja pemeriksaan, kedua tungkai lurus.
  • PO (Posisi Objek)= Tungkai bawah yang difoto lurus/true AP yaitu : mengatur maleolus lateral dan medial pada ankle berjarak sama pada kaset, condilus lateral dan medial berjarak sama pada kaset.
  • Ukuran kaset = 30x40 cm Vertikal
  • CR = Tegal lurus Vertikal
  • CP = Pada mid (Pertengahan) Oss Cruris
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Dari Knee joint sampai Ankle joint
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Oss Tibia dan Fibula, Ankle joint dan Knee joint.


Kriteria Evaluasi :
  • Tampak oss cruris dalam posisi AP
  • Persendian dari proksimal tibia dan fibula sedikit overlap
  • Ankle dan Knee joint dalam posisi true AP

Proyeksi pemeriksaan Lateral

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien tidur miring di atas meja pemeriksaan, dengan tepi yang akan difoto dekat dengan meja pemeriksaan. Tungkai yang akan difoto lurus, tungkai yang lain genu fleksi diletakkan di depan tungkai yang akan difoto.
  • PO (Posisi objek) = Tungkai  bawah true lateral dengan cara knee joint dan ankle joint masing-masing  dalam kedudukan true lateral. dan Tungkai bawah memanjang di atas kaset,
  • Ukuran kaset = 30x40 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada mid (Pertengahan) Ossa Cruris
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Dari Knee joint sampai Ankle joint.
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Oss Tibia dan Fibula, Knee Joint dan Ankle joint


Kriteria Evaluasi :
  • Oss Tibia dan Fibula banyak yang mengalami superposisi







Jumat, 29 Maret 2013

Proyeksi pemeriksaan Oss Calcaneus

Proyeksi pemeriksaan Calcaneus ada 2 yaitu :


  1. Axial
  2. Lateral

Untuk Klinis pemeriksaan biasanya terjadi Fraktur pada Oss Calcaneus.


Proyeksi pemeriksaan Lateral

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien tidur di atas meja pemeriksaan, dengan tungkai yang akan difoto dekat meja pemeriksaan, Tungkai yang akan difoto fleksi dan tungkai yang lain lurus diarahkan kebelakang pasien dan Genu dari Ankle yang akan difoto diganjal dengan spon
  • PO (Posisi Objek) = Ankle joint diatur true lateral dengan cara mengatur maleolus lateralis dan medialis dalam satu garis vertikal, Maleolus lateral menempel pada kaset, Oss Calcaneus diletakkan dipertengahan kaset, kaset diatur horizontal
  • Ukuran kaset = 18x24 cm Horizontal
  • CR = Tegak lurus Vertikal pada pertengahan kaset
  • CP = Pada Talocalcaneo joint
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = dari Talus sampai Calcaneus
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Calcaneus, Maleolus Medial, Talus, Talocalcaneo Joint


Kriteria Evaluasi :

  • Tampak Calcaneus dalam posisi lateral
  • Calcaneus tidak terjadi rotasi
  • Sustentaculum tali dan Tuberositas lateral tampak jelas serta jaringan lunak tampak
  • Tampak sinus tarsi.

Proyeksi pemeriksaan Axial 

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien supine (Tiduran) di atas meja pemeriksaan, dengan kedua tungkai lurus.
  • PO (Posisi Objek) = Telapak kaki vertikal, tumit diletakkan di atas kaset, Untuk fiksasi daerah tarsal ditarik dengan tali ke arah cranial.
  • Ukuran kaset = 18x24 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada Oss Calcaneus
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan Kolimasi = dari Tarsal sampai Calcaneus.
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Oss Calcaneus terlihat



Kriteria Evaluasi :

  • Tampak calcaneus mulai dari suspentaculum tali sampai ke tuberositas termasuk talocalcaneal joint 
  • Tidak terjadi rotasi pada calcaneus.



Proyeksi pemeriksaan Ankle Joint

Untuk Proyeksi pemeriksaan Ankle Joint ada 2 yaitu :


  1. AP
  2. Lateral

Untuk Klinis biasanya terjadi fraktur atau dislokasi pada sendi Ankle.


Proyeksi pemeriksaan AP

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien duduk atau Tiduran (Supine) di atas meja pemeriksaan, kedua tungkai lurus.
  • PO (Posisi Objek) = Telapak kaki yang difoto Vertikal, Tumit menempel ke kaset. Untuk fiksasi diletakkan penyangga di depan telapak kaki. Ankle joint diatur true AP dengan maleolus lateralis dan medialis berjarak sama terhadap kaset. Dibawah Ankle joint diletakkan spon kecil untuk mencegah terjadinya gerakan.
  • Ukuran kaset = 18x24 cm Vertikal atau Horizontal untuk 2 gambaran
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada Mid (Pertengahan Maleolus Lateral dan Medial.
  • FFD = 100cm
  • Luas lapangan Kolimasi = dari 1/3 Distal Cruris sampai Talus.
  • Marker = R/L Orientasi AP


Kriteria Gambaran : Ossa Distal Tibia Fibula, Tibiofibular Joint(Ankle) Terlihat, Maleolus Lateral dan medial dan Talus



Kriteria evaluasi : 

  • Tampak AP Ankle joint
  • Celah sendi talotibia tampak
  • Daerah distal tibia sampai ke talus harus terlihat
  • Superposisinya bagian distal tibia dan Fibula menandakan tulang normal
  • Maleolus lateral dan medial tampak

Proyeksi pemeriksaan Lateral

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien tidur miring di atas meja pemeriksaan dengan tungkai yang akan difoto dekat meja pemeriksaan, Tungkai yang akan difoto fleksi dan tungkai yang lain lurus diarahkan ke belakang pasien dan genu dari ankle yang akan difoto diganjal dengan spon.
  • PO (Posisi Objek) = Ankle joint diatur true Lateral dengan cara mengatur maleolus lateralis dan medialis dalam satu garis vertikal. dan Maleolus lateralis menempel pada kaset.
  • Ukuran kaset = 18x24 Vertikal atau Horizontal untuk 2 gambaran
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada Maleolus Medialis
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Dari Distal Ossa Tibia Fibula sampai talus
  • Marker = R/L Orientasi AP


Kriteria Gambaran : Oss Distal Tibia dan Fibula, Tibiofibular joint (Ankle), Maleolus Lateral dan medial, Talus, dan Calcaneus.


Kriteria evaluasi : 

  • Ujung distal tibia fibula overlaping pada bagian posterior.
  • Sendi tibia fibula terlihat jelas.
  • Tibia, fibula bagian distal dan talus harus tampak.









Rabu, 27 Maret 2013

Proyeksi Pemeriksaan Pedis


Untuk proyeksi pemeriksaan Ossa Pedis ada 9 yaitu :


  1. AP
  2. AP Axial
  3. AP Obliq
  4. PA Obliq
  5. Lateral
  6. Lateral Weigh bearing
  7. AP Axial Weigh bering
Tetapi untuk Proyeksi pemeriksaan pedis di rumah sakit biasanya AP, Lateral, dan Obliq saja
Untuk klinis biasanya ada Fractur,dislokasi, dan benda asing.


Proyeksi pemeriksaan AP

  • PP (Posisi pasien) = Pasien duduk atau supine di atas meja pemeriksaan 
  • PO (Posisi pasien) = Fleksikan tumit kaki yang akan diperiksa dan telapak kaki menempel pada kaset 
  • Ukuran kaset = 18x24 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus vertikal atau menyudut 10 derajat ke arah tumit
  • CP = di metatarsal 3
  • FFD = 90 cm
  • Lapangan kolimasi = dari Ankle joint sampai phalang.
  • Marker = R/L orientasi AP

Kriteria gambaran = Phalank, Metatarsal,tarsal (Talus, Navicular, Cuboid, Cuneiform Lateral,Intermedial, medial) Ankle joint.

Kriteria Evaluasi : 
  • Pedis bebas overlap dengan ditandai :
  • Jumlah yang sama pada space diantara metatarsal II hingga IV
  • Tingkat overlap terjadi dibagian dasar metatarsal II hingga V.

Proyeksi pemeriksaan Lateral (Mediolateral)

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien semi prone, tungkai yang difoto dekat dengan meja pemeriksaan dan diatur lurus dan tungkai yang lain fleksi dan tungkai bawah diletakkan didepan tungkai yang difoto.
  • PO (Posisi Objek) = Telapak kaki diatur vertikal dengan tepi lateral menempel kaset dan diatur pada pertengahan film, kaset horizontal pada meja pemeriksaan.
  • Ukuran kaset  18x24 cm Horizontal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = Pada Navicular
  • FFD = 90 cm
  • Lapangan kolimasi = Dari Ankle joint sampai Phalank
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Phalang, Metatarsal, Tarsal (Navicular, Cuneiform Lateral, Intermedial, medial, talus) dan Ankle joint

Kriteria Evaluasi = 
  • Metatarsal mendekati superposisi
  • Kaki bagian distal dan Ankle joint tampak
  • Fibula overlap dengan bagian posterior dari tibia
  • Talotibial joint (Ankle joint) tampak.

Proyeksi pemeriksaan Obliq

  • PP (Posisi pasien) = Pasien supine di atas meja pemeriksaan. Tungkai yang tidak difoto lurus, Dapat pula diatur dengan posisi penderita duduk. Genu dari tungkai yang difoto fleksi, telapak kaki diletakkan dipertengahan kaset.
  • PO (Posisi pasien) = Tungkai diatur condong ke medialm, sehingga tepi lateral telapak kaki terangkat dan membentuk sudut 30 derajat terhadap kaset.
  • Ukuran kaset = 18x24 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Vertikal
  • CP = di Metatarsal 3
  • FFD = 90 cm
  • Luas lapangan kolimasi = Dari Ankle joint sampai Phalank
  • Marker = R/L Orientasi AP

Kriteria gambaran : Phalang, Metatarsal, Tarsak (Cuneiform Lateral, Navicular, Cuboid, Talus, sebagian Calcaneus) dan Ankle joint

Kriteria Evaluasi : 
  • Dasar metatarsal III sampai V bebas superposisi
  • Tarsometatarsal dan intertarsal joint tampak
  • Sinus tarsi tampak 
  • Tuberositas dari Metatarsal V diperlihatkan.









Proyeksi pemeriksaan Scapula


Untuk proyeksi pemeriksaan Scapula ada  2 yaitu :

  • AP
  • Lateral
  • Y view (Tangensial)
Untuk Proyeksi pemeriksaan yang sering dilakukan di rumah sakit hanya AP dan Lateral 
Untuk Klinisnya biasanya Fraktur di Scapula.

Proyeksi pemeriksaan AP 

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien berdiri (Erect) atau Tiduran (Supine)
  • PO (Posisi Objek) = Tubuh dirotasikan 30 derajat ke arah yang sakit, sehingga scapula sisi yang yang diperiksa paralel dengan film, pada posisi supine sisi yang sehat diganjal dengan sandbag dan tangan diletakkan di atas scapula
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Vertikal
  • CR = Horizontal atau vertikal tegak lurus.
  • CP = Pada mid scapula menuju pertengahan kaset.
  • FFD = 90 cm
  • Marker = R/L orientasi AP

Kriteria gambaran : Scapula, Coracoid Process, Acromion, Glenoid cavity, Inferior angle Clavicula, dan Lateral border.


Kriteria Evaluasi : 

  • Bagian lateral dari scapula harus bebas superposisi dari costae
  • Scapula terlihat horizontal dan tidak obliq
  • Detail dari scapula dapat dilihat pada bagian yang superposisi dengan paru-paru dan costae
  • Processus acromion harus masuk dalam foto.

Proyeksi pemeriksaan Lateral

  • PP (Posisi pasien) = Pasien berdiri (Erect) membelakangi arah sinar
  • PO (Posisi Objek) = Siku pada sisi yang diperiksa dalam keadaan fleksi, lengan sedikit abduksi dan diletakkan dibelakang tubuh dan tubuh dirotasikan 60-70 derajat sehingga sisi yang diperiksa dekat dengan film dan bidang scapula tegak lurus terhadap kaset.
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Vertikal
  • CR = Tegak lurus Horizontal
  • CP = Pada pertengahan scapula menuj pertengahan kaset.
  • FFD = 90 cm
  • Marker = R/L Orientasi PA 

Kriteria gambaran : Scapula, Coracoid Process, Acromion, Inferior angle.


Kriteria Evaluasi : 

  • Bagian vertebrae pada daerah axila terlihat superposisi
  • Scapula terbebas dari superposisi dengan humerus.
  • Proses Acromion dan angulus inferior harus masuk dalam radiograf.
  • Bagian yang tebal dari lateral scapula harus terlihat dengan densitas yang jelas.






Selasa, 26 Maret 2013

Radiografi VS Fotografi


Radiografi adalah proses pencatatan bayangan dengan menggunakan sinar x pada bahan yang peka terhadap  
sinar x atau cahaya tampak (Radiation sensitive material).

Fotografi adalah proses pencatatan bayangan dengan menggunakan cahaya pada suatu bahan yang peka terhadap cahaya (Light sensitive material).

Persamaan Radiografi dan Fotografi


  • Pembentukan bayangan/gambaran
  • Pencatatan bayangan pada suatu material
  • Pembentukan bayangan bersifat permanen.
Perbedaan Radiografi dan Fotografi

Radiografi :
  1. Menggunakan sinar X,sinar tembus
  2. Perbedaan penghitaman akibat sensitivitas (banyak sedikitnya) Sinar X yang menembus bahan 
  3. Intensitas sinar X tersebut dipengaruhi oleh :Tenaga sinar X, Ketebalan bahan yang ditembus, Kerapatan bahan yang ditembus, Nomor atom dari bahan/objek.
  4. Menimbulkan efek biologis
  5. Obejknya adalah bagian tubuh manusia bagian dalam
Fotografi :
  1. Menggunakan Cahaya tampak, cahaya pantul
  2. Perbedaan penghitaman pada material film adalah suatu akibat dari perbedaan intensitas cahaya pantul.
  3. Intensitas cahaya tersebut dipengaruhi oleh Tenaga cahaya, warna cahaya, dan kepekaan bahan pencatatan bayangan terhadap cahaya tertentu.
Proses pembentukan gambaran

Radiografi :

  • Sinar X menembus objek, lalu ditangkap oleh bahan yang sensitive terhadap sinar X atau cahaya tampak (emulsi film). Hasil berupa bayangan negatif (radiograf).
Fotografi :
  • Kilatan cahaya mengenai objek, dipantulkan oleh objek tersebut, kemudian pantulan tersebut ditangkap oleh bahan yang peka cahaya (emulsi film) Hasil berupa bayangan negatif (Klise).

Minggu, 24 Maret 2013

Proyeksi Pemeriksaan Clavicula


Proyeksi pemeriksaan Clavicula ada 2 yaitu :


  1. AP
  2. AP Axial

Proyeksi pemeriksaan Clavicula biasanya dengan klinis seperti : Fraktur, Corpus Alienum (Benda Asing), dan Dislokasi.


Proyeksi Pemeriksaan AP :

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien Berdiri (Erect) atau Tiduran (Supine) dengan punggung menempel pada meja pemeriksaan atau bucky stand.
  • PO (Posisi Objek) = Posisikan Bahu dan Tulang Clavicula berada di tengah-tengah kaset.
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Horizontal
  • CR = Tegak lurus Horizontal
  • CP = Pada Mid (Pertengahan Clavicula)
  • Kolimasi = dari Proksimal Humerus sampai Sternoclavicular joint
  • FFD = 90-100 cm
  • Marker = R/L orientasi AP

Kriteria gambaran : Seluruh Oss Clavicula, Akromioclavicular joint dan Sternoclavicular joint.

2 Gambaran clavicula R/L

Kriteria Evaluasi : Tulang Clavicula Superposisi dengan tulang-tulang lainnya.


Proyeksi Pemeriksaan AP Axial

  • PP (Posisi Pasien) = Pasien Berdiri (Erect) atau Tiduran (Supine) dengan punggung menempel pada meja pemeriksaan atau bucky stand
  • PO (Posisi Objek) = Posisikan tumbuh bagian bawah pasien condong ke depan kira-kira 45 derajat dengan bahu tetap menempel pada kaset.
  • Ukuran kaset = 24x30 cm Horizontal
  • CR = Menyudut Cranial (Cephalad) 0-15 derajat.
  • CP = Pada Mid (Pertengahan) Ossa Clavicula
  • Kolimasi = dari Proksimal Humerus sampai sternoclavicular joint.
  • FFD = 90-100 cm
  • Marker = R/L Orientasi AP
Kriteria Gambaran : Keseluruhan Oss Clavicula, Akromioclavicular joint dan Sterno Clavicular joint.

Kriteria Evaluasi : Ossa Clavicula Terlempar sehingga bebas atau tidak superposisi dengan Ribs.






Sabtu, 23 Maret 2013

Produki Sinar X

Sinar X pertama kali ditemukan oleh ahli fisikawan asal Jerman yang bernama Wilhelm Conrad Roentgen pada tanggal 8 November 1895, saat itu Roentgen bekerja menggunakan tabung dengan pertama kali digunakan ke tangannya sendiri.




Sinar X terjadi karena adanya tumbukan elektron-elektron di dalam sebuah tabung hampa udara.
Sinar X terbagi menjadi 2 yaitu :


  1. Sinar X Bremstrahlung
  2. Sinar X Karakteristik

  • Sinar X Bremstrahlung terjadi akibat adanya interaksi antara elektron-elektron yang berasal dari Katoda dengan inti Atom yang berasal dari Anoda sehingga terjadi penyerapan energi atau pelepasan energi.
  • Sinar X Karakteristik terjadi akibat adanya tumbukan antara elektron-elektron yang berasal dari Katoda dengan elektron-elektron yang berada di lintasan Anoda sehingga terjadi pelepasan energi dari lintasan elektron yang lebih tinggi ke lintasan elektron yang lebih rendah.\

Syarat-syarat terjadinya Sinar X :

  • Harus ada Sumber elektron (Katoda dan Anoda)
  • Focussing cup
  • Tabung hampa udara
  • Adanya Pemercepat elektron (Rangkaian HTT)
  • Adanya Awan Elektron 
Sifat-sifat sinar X :

  1. Dapat menembus objek atau benda karena mempunyai panjang gelombang yang sangat pendek.
  2. Tidak dipengaruhi oleh medan magnet atau medan Listrik jadi sinarnya tegak lurus.
  3. Dapat mengionisasikan suatu Zat
  4. Dapat mengeluarkan cahaya Luminisensi
  5. Dapat menghitamkan Film (Efek Fotografi)
  6. Dapat menimbulkan efek Biologi
  7. Sinar X apabila menembus objek akan terjadi Atenuasi,Absorpsi, dan Scatter.

Dio Aditya Warman. Diberdayakan oleh Blogger.